Ada malaikat tersenyum lewat bibirmu
Di dalam matamu, menyulam cahaya
Ah, purnama yang sempurna
Kau, pelukanmu yang kutunggu
Saat cakrawala menggoda senja
Saat lelah memeluk tubuhku dengan erat
Saat letih menggenggam kepalaku dalam berat
Aku tahu, tak pantas jika kau sandaranku
Aku pemuda, penentang masa, dan kau wanita
Memang tak pantas jika kau sandaranku
Tapi bagaimana lagi,
Malaikatmu meminjamkan pangkuannya padaku
Mencium keningku, lagi lewat bibirmu
Oh, tolong, biarkan sejenak begini
Lalu esok lagi kupenuhi janji,
Kutegakkan kaki, kupijak bumi, kutantang matahari
Karena entah, kapan surga akan memintamu kembali
Atau dunia memintaku pergi
Ada malaikat tersenyum lewat bibirmu
Menyulam cahaya pada matamu
Menggenggam lewat tanganmu
Memeluk lewat tubuhmu
Ada malaikat tersenyum lewat bibirmu
Senyumnya, serupa senyummu
Malaikat itu serupa dirimu
Malaikat itu, dirimu
Dan aku masih akan ada
Menemanimu merenda senja dengan cahaya
Kusiapkan tempat yang takkan pernah disisipi sunyi
Agar namamu, tetap lestari
________________________________________________________________________
“Untuk
Lestari”
Wanita paling kucintai dalam kolong semesta, malaikat yang
merelakan waktunya di surga, untuk menemaniku di dunia.
-Jogja, 18-12-2012-

4 comments:
puisinya bagus :)
Waah.. makasih banyak mbak :D
jadi inget udah sekian abad ngga ngupdate blog ini... #PentunginDiriSendiri
Permainan QQ Internet
Tips Menang Bermain Kartu
Prediksi Skor
Prediksi Pertandingan
Tebak Skor
Cerita Seks
Fantasi Seks
Wow. Gak mudah bikin puisi. Dan kamu sudah membuatnya dengan sangat baik.
Posting Komentar